Tambrauw – Remaja Asal Bandung Kasus dugaan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) kembali mencuat dan kali ini menyeret nama klub sepak bola legendaris, PSMS Medan. Seorang remaja asal Bandung diduga menjadi korban penipuan berkedok seleksi pemain PSMS. Menanggapi hal tersebut, manajemen PSMS Medan dengan tegas membantah bahwa klub tengah membuka seleksi maupun mengirim panggilan resmi kepada siapa pun.
Kasus ini mencuat setelah keluarga korban melaporkan adanya dugaan perekrutan ilegal yang mengatasnamakan PSMS. Remaja berusia 16 tahun itu berangkat ke Medan setelah dibujuk seseorang yang mengaku sebagai perantara yang bisa memasukkan dirinya sebagai calon pemain PSMS.
Korban Dibawa ke Medan dengan Iming-iming Seleksi Resmi

Baca Juga : Guru Tambrauw Ukir Prestasi di Ajang Apresiasi GTK Papua Barat Daya 2025
Menurut keterangan keluarga, korban awalnya menerima pesan dari seseorang yang mengaku staf pencari bakat (talent scouting) PSMS. Pelaku menjanjikan seleksi khusus dengan biaya tertentu, lengkap dengan dokumen palsu seperti surat panggilan dan jadwal latihan.
Setelah berangkat ke Medan, remaja tersebut justru dibawa ke sebuah rumah kos dan diminta membayar sejumlah uang untuk “administrasi seleksi”. Korban mulai curiga ketika tidak kunjung dijadwalkan latihan.
Baru setelah keluarga menghubungi pihak klub melalui jalur resmi, terbongkarlah bahwa PSMS tidak pernah membuka seleksi pemain dalam waktu dekat.
PSMS Medan: Kami Tidak Pernah Mengadakan Seleksi
Manajemen PSMS Medan langsung memberikan klarifikasi resmi terkait kasus ini. Mereka menegaskan tidak memiliki program seleksi terbuka dan tidak pernah mengeluarkan surat panggilan kepada calon pemain dari luar Sumatera Utara.
“Kami sangat menyayangkan ada pihak tak bertanggung jawab yang mencatut nama PSMS. Saat ini klub tidak sedang membuka seleksi. Segala bentuk perekrutan hanya dilakukan melalui jalur resmi,” tegas perwakilan manajemen.
Pihak klub juga menegaskan bahwa seluruh informasi rekrutmen hanya diumumkan melalui media sosial resmi atau kantor klub. Selain itu, PSMS meminta masyarakat berhati-hati terhadap oknum yang menawarkan jalan cepat masuk klub sepak bola mana pun.
Korban Berhasil Diselamatkan
Setelah mengetahui bahwa dirinya tertipu, korban menghubungi keluarganya yang kemudian meminta bantuan pihak berwajib. Remaja tersebut berhasil diselamatkan oleh aparat kepolisian setempat dan kini sudah berada di tempat aman.
Polisi telah mengamankan beberapa barang bukti berupa dokumen palsu, bukti transfer, serta percakapan digital antara korban dan pelaku. Penyelidikan masih berlangsung untuk mengejar pelaku utama dan jaringan yang terlibat.
Polisi Duga Ada Modus Perekrutan Serupa
Kepolisian menduga kasus ini bukan yang pertama kali terjadi. Pelaku diduga menggunakan modus serupa untuk menjebak remaja lain yang memiliki cita-cita menjadi pesepakbola profesional.
Modus-modus yang digunakan antara lain:
-
mengatasnamakan klub sepak bola terkenal,
-
menawarkan jalur seleksi cepat,
-
meminta biaya transfer maupun administrasi,
-
menunjukkan surat panggilan palsu,
-
mengajak korban ke luar kota, lalu melakukan pemerasan.
Penyidik kini sedang menelusuri apakah ada korban lain, terutama dari daerah Jawa Barat dan Sumatera.
Keluarga Korban Trauma, Minta Pelaku Segera Ditangkap
Keluarga korban mengaku masih shock dengan peristiwa ini. Mereka berharap polisi segera menangkap pelaku agar kasus serupa tidak menimpa remaja lain.
“Kami kira ini kesempatan emas bagi anak kami. Ternyata malah jadi korban penipuan. Kami tidak ingin ada orang lain yang mengalami hal sama,” ujar keluarga.
PSMS Minta Warga Waspada dan Cek Informasi Resmi
PSMS Medan mengimbau masyarakat agar selalu memverifikasi informasi yang mengatasnamakan klub, apalagi jika terkait dengan uang dan panggilan seleksi.
“Jika ada yang mengatasnamakan PSMS, masyarakat bisa langsung mengecek ke kantor klub. Jangan mudah percaya pada pesan pribadi,” lanjut manajemen.
Mereka juga mendukung penuh proses hukum agar nama PSMS tidak terus dicatut untuk kepentingan tindak pidana.
Harapan Agar Kasus Ini Jadi Pelajaran
Kasus ini menjadi pengingat bahwa mimpi menjadi atlet profesional kerap dimanfaatkan oknum demi keuntungan pribadi. Banyak orang tua dan remaja yang antusias dengan dunia olahraga, sehingga mudah percaya dengan tawaran instan.
Pihak kepolisian, pemerintah, dan klub-klub sepak bola diharapkan semakin aktif memberikan edukasi agar masyarakat lebih berhati-hati terhadap modus TPPO berkedok seleksi olahraga.
















