Tambrauw – Warga Fef di Kabupaten Tambrauw kini menghadapi persoalan serius: terputusnya pipa air bersih yang menjadi sumber utama pasokan air bagi kehidupan sehari-hari.
Akibatnya, banyak rumah tangga tidak memiliki akses air sama sekali, sehingga kegiatan mendasar seperti mandi dan memasak menjadi terganggu.
Kehidupan sehari-hari terhambat—remaja sulit membersihkan diri sebelum berangkat sekolah, ibu rumah tangga kesulitan menyiapkan air untuk keperluan dapur.
Tangisan anak kecil terdengar lebih sering, karena air yang biasanya tersedia di bak tandon telah habis dan tak kunjung terisi.
Para ibu harus berinisiatif mencari solusi alternatif: menadah air hujan dengan ember, meski jumlahnya tak selalu cukup.
Sebagian warga terpaksa membawa jerigen berisi air dari sumber jauh setiap hari, dengan biaya dan tenaga ekstra yang harus ditanggung.
Tidak adanya suplai air memunculkan kekhawatiran terhadap kebersihan dan kesehatan—air yang ada mulai digunakan lebih hemat dan bahkan digunakan kembali.
Beberapa keluarga memilih menggunakan air sumur dangkal, meski kualitasnya diragukan dan tidak layak konsumsi.
Banyak juga yang merebus air sumur sebelum digunakan untuk memasak—tindakan ekstra yang menyita waktu dan bahan bakar.
Para orang tua risau—anak-anak terpaksa mandi seadanya, meningkatkan risiko penyakit kulit dan infeksi.

Baca Juga : Kemensos Gandeng Portadin Wujudkan Layanan Inklusif untuk Disabilitas
Air merupakan kebutuhan mendasar—tanpa air bersih, kegiatan hidup menjadi jauh lebih sulit dan penuh risiko.
Retak di beberapa bagian jalan mulai terlihat, mungkin akibat kebocoran pipa yang lama dibiarkan tanpa perbaikan.
Ini bukan hanya masalah teknis, melainkan krisis kemanusiaan bagi warga yang bergantung penuh pada pasokan air dari sistem pipa.
Tragisnya, pihak berwenang lokal dan pengelola jaringan belum memberikan perbaikan yang signifikan hingga saat ini.
Tekanan terus berdatangan dari masyarakat—keluhan demi keluhan disampaikan secara langsung maupun melalui perwakilan desa.
Namun respons belum sejalan: perbaikan digadang-gadang segera dilakukan, tetapi alat dan material tak kunjung tiba.
Sepadan dengan hal di wilayah Luwu Timur yang sempat alami kebocoran pipa PDAM akibat penggunaan jenis pipa tidak cocok, yang lama belum terganti pipa HDPE yang lebih tahan dan fleksibel
Para warga kini berharap pipa yang putus segera diganti dengan sistem yang lebih kuat dan tahan lama agar kejadian serupa tak terulang.
Beberapa kamu bahkan menuntut tanggung jawab pihak berwenang, mengingat air bersih adalah hak dasar setiap warga.
Di tempat lain di Indonesia, warga sering mengeluhkan minimnya perawatan pipa distribusi sehingga ketika terjadi kerusakan, air tak bisa mengalir sama sekali
















