Tambrauw – Pertamina Patra Niaga bersama Bank Mandiri menggelar pertemuan penting di Jayapura, Papua, yang membahas kerja sama strategis dalam penguatan distribusi energi dan pemberdayaan UMKM.
Pertemuan ini merupakan bagian dari upaya bersama untuk meningkatkan akses energi yang merata serta membangun ekosistem ekonomi kerakyatan di wilayah timur Indonesia.
Hadir dalam pertemuan tersebut General Manager Pertamina Patra Niaga Regional Papua-Maluku, Andar Titi Lestari, dan Regional CEO Bank Mandiri Wilayah Papua-Maluku, Denny Wahyudi.
Keduanya sepakat bahwa sinergi antara sektor energi dan perbankan menjadi kunci untuk percepatan pembangunan ekonomi di Papua.
Fokus utama pembahasan meliputi peningkatan distribusi BBM dan LPG yang lebih efisien serta kemitraan dalam akses pembiayaan untuk UMKM lokal.
Pertamina menyoroti tantangan geografis Papua yang seringkali menjadi kendala utama dalam distribusi energi.
Andar Titi Lestari menjelaskan bahwa pihaknya terus mencari solusi inovatif agar masyarakat di daerah terpencil dapat menikmati energi dengan harga yang terjangkau.
Salah satu pendekatan yang dibahas adalah pengembangan titik distribusi BBM Satu Harga secara lebih luas.
Program BBM Satu Harga telah membantu masyarakat di daerah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal) untuk memperoleh energi tanpa harus membayar lebih mahal.

Baca Juga : Danantara Kawal Rencana Pembangunan Kampung Haji di Arab Saudi
Pertamina juga menegaskan komitmen untuk menambah jumlah sub-penyalur dan agen LPG 3 kg di pedalaman Papua.
Di sisi lain, Bank Mandiri menawarkan dukungan finansial melalui produk-produk perbankan yang disesuaikan dengan kebutuhan pelaku UMKM di Papua.
Denny Wahyudi menyebutkan bahwa Mandiri telah menyalurkan berbagai kredit mikro dan KUR (Kredit Usaha Rakyat) kepada UMKM binaan.
Dalam pertemuan itu, Bank Mandiri juga memperkenalkan skema pembiayaan untuk sub-penyalur BBM dan agen LPG.
Dengan pembiayaan yang tepat, distribusi energi dapat dilakukan secara lebih luas dan cepat.
Kolaborasi ini juga membuka peluang keterlibatan pelaku UMKM sebagai mitra distribusi energi di tingkat lokal.
Menurut data internal, masih banyak daerah di Papua yang belum memiliki akses tetap terhadap energi bersubsidi.
Hal ini tidak hanya berdampak pada biaya hidup masyarakat, tetapi juga menghambat aktivitas ekonomi dan layanan publik.
Oleh karena itu, kolaborasi lintas sektor sangat dibutuhkan untuk menutup kesenjangan ini.
Dalam sesi diskusi, kedua belah pihak juga membahas potensi pengembangan energi ramah lingkungan di wilayah Papua.
Beberapa lokasi dinilai potensial untuk pemanfaatan energi surya dan bioenergi sebagai sumber energi alternatif.
















